KH Sahal Mahfudz dan Prof KH Said Aqil Siradj Pimpin NU

Maret 28, 2010 at 5:50 am 1 komentar


MAKASSAR – Tuntas sudah perhelatan akbar Muktamar Ke-32 Nahdlatul Ulama (NU). Penutupan gawe lima tahunan organisasi masyarakat terbesar itu dihelat di Asrama Haji Sudiang tadi malam. Hasil muktamar tersebut mengamanatkan KH Sahal Mahfudz sebagai rais am dan Prof KH Said Aqil Siradj sebagai ketua umum Pengurus Besar NU untuk masa khidmat 2010-2015.

Pemilihan rais am berlangsung dramatis. Kiai Sahal bersaing dengan Hasyim Muzadi, mantan ketua umum PB NU. Dua nama itu memang muncul sebelum muktamar tersebut berlangsung. Rivalitas pendukung keduanya sangat terasa selama muktamar. Kiai Sahal menang setelah Hasyim mundur di tengah jalan.

Pleno pemungutan suara untuk jabatan rais am dimulai pukul 11.00 Wita atau sekitar pukul 10.00 WIB. Sidang dipimpin Ketua Pengurus Wilayah NU Sulawesi Selatan Dr Zen Irwanto selaku tuan rumah. Zen didampingi ketua PW NU Jambi untuk mewakili Pulau Sumatera, PW NU Banten yang mewakili Pulau Jawa, PW NU Kalimantan Tengah sebagai wakil Pulau Kalimantan, dan PC NU Ternate selaku representasi Indonesia Timur.

Sebelum pemilihan, secara resmi Kiai Sahal sebagai rais am periode 2004-2009 menyatakan demisioner. Dalam kesempatan itu, pengasuh Ponpes Maslakul Huda, Kajen, Jateng, tersebut mengucapkan terima kasih dan mohon maaf atas kekurangan selama kepengurusan lalu. Setelah itu, Hasyim dan seluruh pengurus syuriah dan tanfidziyah meninggalkan tempat di atas panggung, lalu duduk bersama para peserta muktamar.

Zen lantas membacakan tata tertib (tatib) pemilihan rais am sesuai dengan yang disepakati dalam muktamar. Yakni, pemilihan diadakan secara langsung, bebas, dan rahasia. Kandidat harus bebas dari pengurus partai politik dan mendapatkan dukungan sekurang-kurangnya 99 suara. Sesudah membacakan tatib itu, suasana di luar ruang senyap. Ribuan peserta dan penggembira muktamar seolah sudah tidak sabar untuk mengetahui calon rais am mendatang.

Sebelum memanggil para peserta untuk memberikan suara, salah seorang peserta dari PC NU Pamekasan, Jatim, menginterupsi. Kabarnya, dia bakal menyuarakan agar pemilihan rais am dilaksanakan melalui ahlul halli wal aqdi atau ditetapkan oleh para kiai sepuh. Namun, Zen tidak memberikan kesempatan karena sudah disepakati dalam pleno. Peserta itu lantas diminta pihak keamanan untuk keluar dari gedung pemilihan.

Setelah melalui penghitungan suara sekitar dua jam, Kiai Sahal mendapatkan suara terbanyak, yakni 272 di antara 503 suara yang dianggap sah. Sedangkan Hasyim meraih 180 suara. Selain mereka, muncul beberapa nama lain. Di antaranya, ada KH Makruf Amin dan KH Maemun Zuber. Namun, suara mereka bisa dihitung dengan jari.

Sesuai dengan tatib, calon yang bisa lanjut untuk mengikuti pemilihan minimal memenuhi syarat 99 suara. Hanya Kiai Sahal dan Hasyim yang melebihi limit itu. “Ada opsi lanjut ke tahap berikutnya. Pertama, apakah diteruskan sesuai dengan tatib atau tanya kepada Pak Hasyim, apakah bersedia untuk tidak melanjutkan pencalonan,” ungkap Zen.

Suara peserta muktamar lantas terbelah. Ada yang menghendaki lanjut, tapi sebagian besar berharap Hasyim dengan legawa tidak meneruskan. Di luar ruang sidang, banyak suara yang menghendaki Hasyim yang juga mantan ketua PW NU Jatim itu mundur. Beberapa saat kemudian, Hasyim memberikan secarik kertas kepada pimpinan sidang. Zen lalu bergegas membacakannya. Isi surat itu, Hasyim tidak bersedia untuk dicalonkan sebagai rais am.

Pekik takbir dan salawat berkumandang bukan hanya di ruang tertutup tersebut. Di luar ruang, ribuan orang pun bersorak. “Hidup Pak Hasyim! Hidup Pak Hasyim!” teriak mereka bersahutan. Ketika dipeluk sejumlah peserta, Hasyim meneteskan air mata. Beberapa pendukung setianya juga tidak kuasa menahan tangis atas keputusan bijak tersebut. Dengan terus dikawal petugas, Hasyim berlalu untuk meninggalkan ruang dan menuju mobilnya tanpa berkata sepatah kata pun.

Sementara itu, pemilihan ketua umum PB NU juga berlangsung meriah, tapi tidak setegang pemilihan rais am. Pada tahap penentuan calon, muncul beberapa nama. Selain Said Aqil yang meraih 178 suara, ada nama KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang mendapatkan 83 suara, Slamet Effendy Yusuf (158), Ahmad Bagja (36), Ulil Abshar Abdalla (22), Ali Maschan Moesa (8), Abdul Aziz (7), Hasyim (6), dan Masdar Farid Mas’udi (6).

Karena hanya dua nama yang meraih lebih dari 99 suara, yakni Said Aqil dan Slamet, dua orang itulah yang berhak maju menjadi calon. Setelah melalui pemungutan suara hingga pukul 19.30 WIB, Said Aqil unggul dengan 294 suara. Sedangkan Slamet kebagian 201 suara. Begitu suara untuk Said Aqil melampaui 250, spontan para pendukung pria kelahiran Cirebon tersebut mengumandangkan takbir dan salawat. Bahkan, banyak yang bersujud syukur. Dalam ruang sidang, Said Aqil langsung dibopong.

Munculnya nama Slamet sebetulnya cukup mengejutkan muktamirin. Sebab, dua nama yang sebelumnya disebut-sebut bakal bersaing ketat adalah Said Aqil dan Gus Sholah. Kabar yang berkembang di arena muktamar, nama Slamet menjadi “kuda hitam” karena di-back up secara kuat oleh para petinggi parpol. Selama muktamar, memang banyak tokoh parpol yang berseliweran. Termasuk, sejumlah ketua umum. Baik tokoh di asrama haji maupun yang tinggal di sejumlah hotel berbintang di Makassar. Banyak dukungan yang terbang kepada Slamet pada malam sebelum pemungutan suara.

Sementara itu, setelah ditetapkan sebagai ketua umum, Said Aqil menegaskan akan membersihkan NU dari tarik-menarik kepentingan politik praktis dan membawa NU kembali ke pesantren. “Saya juga ingin menjadikan NU bersih dari kepentingan politik, sebagai kepanjangan pesantren yang kita semua tahu di pesantren ada agama, ada ilmu, ada akhlak, ada peradaban, budaya, kesederhanaan, kemandirian, dan persaudaraan yang sangat kukuh,” kata Said.

Dia mengatakan, kepengurusannya kelak merevitalisasi pesantren. Hal itu sebagai prinsip atau paradigma membangun masyarakat, khususnya warga nahdliyin. “Semua itu berangkat dari semangat. Revitalisasi pesantren dengan mengonseptualkan kitab kuning karena kita tidak bisa lepas dari itu,” kata Said. Dia didampingi Slamet Effendy Yusuf yang menjadi pesaingnya dalam perebutan posisi ketua umum.

Menurut Said, pesantren akan menyelamatkan jati diri umat Islam dan lebih umum untuk bangsa. Makanya, misi dia membawa NU kembali ke pesantren. “Di tengah era globalisasi yang sangat keras, tarik-menarik yang sangat keras, dari kanan radikalisme, sektarian, teroris, dari kiri sekuler, liberal, maka berangkat dari prinsip pesantren itulah kita bisa menyelamatkan jati diri, nilai-nilai, dan bangsa Indonesia,” jelasnya.

NU, lanjut Said, harus betul-betul kembali ke khitah murni, yaitu kepanjangan dari visi misi para ulama, terutama dari pesantren

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Jalan Tol Gresik-Lamongan Siap Dibangun BANOM NU GRESIK DUKUNG HUMAS

1 Komentar Add your own

  • 1. abu faiq  |  Desember 12, 2011 pukul 12:16 am

    Lebih baik NU itu mengurusi kaum nahdhiyinnya aja,terutama msalah aqidah atau tauhid mereka.nd usah politik politikan lagi.mereka kasihan aqidah mereka masi plengkang plengkung kayak pelek becak.wah wah buahaya niec.kemaren kaum NU lagi pada sesajen komat kamit cari berkah.eeeeeee malah ketua PBNU nye ahli philoshof bukan ahli aqidah islamiyah?????pantesan katenye merinding jitoke bila mendengar kajian da,wah aqidah salafussoleh.iiiiih ngeri juge yeh..nanti NU bertambah sesat kali yeh????

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pos-pos Terbaru

KALENDER

Maret 2010
S S R K J S M
    Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Artikel Lawas

Pengunjung Online


%d blogger menyukai ini: